Tuesday, July 3, 2012

Hewan & Tanaman Yang Dilindungi

LAMPIRAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 7 TAHUN 1999
TANGGAL 27 JANUARI 1999

Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi

No. Nama Ilmiah Nama Indonesia

SATWA

I. MAMALIA (Menyusui)
1 Anoa depressicornis: Anoa dataran rendah, Kerbau pendek
2 Anoa quarlesi: Anoa pegunungan
3 Arctictis binturong: Binturung
4 Arctonyx collaris: Pulusan
5 Babyrousa babyrussa: Babirusa
6 Balaenoptera musculus: Paus biru
7 Balaenoptera physalus: Paus bersirip
8 Bos sondaicus: Banteng
9 Capricornis sumatrensis: Kambing Sumatera
10 Cervus kuhli, Axis kuhli: Rusa Bawean
11 Cervus spp.: Menjangan, Rusa sambar (semua jenis dari genus Cervus)
12 Cetacea: Paus (semua jenis dari famili Cetacea)
13 Cuon alpinus: Ajag
14 Cynocephalus variegatus: Kubung, Tando, Walangkekes
15 Cynogale bennetti: Musang air
16 Cynopithecus niger: Monyet hitam Sulawesi
17 Dendrolagus spp.: Kanguru pohon (semua jenis dari genus Dendrolagus)
18 Dicerorhinus sumatrensis: Badak Sumatera
19 Dolphinidae: Lumba-lumba air laut (semua jenis dari famili Dolphinidae)
20 Dugong dugon: Duyung
21 Elephas indicus: Gajah
22 Felis badia: Kucing merah
23 Felis bengalensis: Kucing hutan, Meong congkok
24 Felis marmorota: Kuwuk
25 Felis planiceps: Kucing dampak
26 Felis temmincki: Kucing emas
27 Felis viverrinus: Kucing bakau
28 Helarctos malayanus: Beruang madu
29 Hylobatidae: Owa, Kera tak berbuntut (semua jenis dari famili Hylobatidae)
30 Hystrix brachyura: Landak
31 Iomys horsfieldi: Bajing terbang ekor merah
32 Lariscus hosei: Bajing tanah bergaris
33 Lariscus insignis: Bajing tanah, Tupai tanah
34 Lutra lutra: Lutra
35 Lutra sumatrana: Lutra Sumatera
36 Macaca brunnescens: Monyet Sulawesi
37 Macaca maura: Monyet Sulawesi
38 Macaca pagensis: Bokoi, Beruk Mentawai
39 Macaca tonkeana: Monyet jambul
40 Macrogalidea musschenbroeki: Musang Sulawesi
41 Manis javanica: Trenggiling, Peusing
42 Megaptera novaeangliae: Paus bongkok
43 Muntiacus muntjak: Kidang, Muncak
44 Mydaus javanensis: Sigung
45 Nasalis larvatus: Kahau, Bekantan
46 Neofelis nebulusa: Harimau dahan
47 Nesolagus netscheri: Kelinci Sumatera
48 Nycticebus coucang: Malu-malu
49 Orcaella brevirostris: Lumba-lumba air tawar, Pesut
50 Panthera pardus: Macan kumbang, Macan tutul
51 Panthera tigris sondaica: Harimau Jawa
52 Panthera tigris sumatrae: Harimau Sumatera
53 Petaurista elegans: Cukbo, Bajing terbang
54 Phalanger spp.: Kuskus (semua jenis dari genus Phalanger)
55 Pongo pygmaeus: Orang utan, Mawas
56 Presbitys frontata: Lutung dahi putih
57 Presbitys rubicunda: Lutung merah, Kelasi
58 Presbitys aygula: Surili
59 Presbitys potenziani: Joja, Lutung Mentawai
60 Presbitys thomasi: Rungka
61 Prionodon linsang: Musang congkok
62 Prochidna bruijni: Landak Irian, Landak semut
63 Ratufa bicolor: Jelarang
64 Rhinoceros sondaicus: Badak Jawa
65 Simias concolor: Simpei Mentawai
66 Tapirus indicus: Tapir, Cipan, Tenuk
67 Tarsius spp.: Binatang hantu, Singapuar (semua jenis dari genus Tarsius)
68 Thylogale spp.: Kanguru tanah (semua jenis dari genus Thylogale)
69 Tragulus spp.: Kancil, Pelanduk, Napu (semua jenis dari genus Tragulus)
70 Ziphiidae: Lumba-lumba air laut (semua jenis dari famili Ziphiidae)

 II. AVES (Burung)
71 Accipitridae: Burung alap-alap, Elang (semua jenis dari famili Accipitridae)
72 Aethopyga exima: Jantingan gunung
73 Aethopyga duyvenbodei: Burung madu Sangihe
74 Alcedinidae: Burung udang, Raja udang (semua jenis dari famili Alcedinidae)
75 Alcippe pyrrhoptera: Brencet wergan
76 Anhinga melanogaster: Pecuk ular
77 Aramidopsis plateni: Mandar Sulawesi
78 Argusianus argus: Kuau
79 Bubulcus ibis: Kuntul, Bangau putih
80 Bucerotidae
81 Cacatua galerita: Kakatua putih besar jambul kuning
82 Cacatua goffini: Kakatua gofin
83 Cacatua moluccensis: Kakatua Seram
84 Cacatua sulphurea: Kakatua kecil jambul kuning
85 Cairina scutulata: Itik liar
86 Caloenas nicobarica: Junai, Burung mas, Minata
87 Casuarius bennetti: Kasuari kecil
88 Casuarius casuarius: Kasuari
89 Casuarius unappenddiculatus: Kasuari gelambir satu, Kasuari leher kuning
90 Ciconia episcopus: Bangau hitam, Sandanglawe
91 Colluricincla megarhyncha: Burung sohabe coklat
92 Crocias albonotatus: Burung matahari
93 Ducula whartoni: Pergam raja
94 Egretta sacra: Kuntul karang
95 Egretta spp.: Kuntul, Bangau putih (semua jenis dari genus Egretta)
96 Elanus caerulleus: Alap-alap putih, Alap-alap tikus
97 Elanus hypoleucus: Alap-alap putih, Alap-alap tikus
98 Eos histrio: Nuri Sangir
99 Esacus magnirostris: Wili-wili, Uar, Bebek laut
100 Eutrichomyias rowleyi: Seriwang Sangihe
101 Falconidae:  Burung alap-alap, Elang (semua jenis dari famili Falconidae)
102 Fregeta andrewsi: Burung gunting, Bintayung
103 Garrulax rufifrons: Burung kuda
104 Goura spp.: Burung dara mahkota, Burung titi, Mambruk (semua jenis dari genus Goura)
105 Gracula religiosa mertensi: Beo Flores
106 Gracula religiosa robusta: Beo Nias
107 Gracula religiosa venerata: Beo Sumbawa
108 Grus spp.: Jenjang (semua jenis dari genus Grus)
109 Himantopus himantopus: Trulek lidi, Lilimo
110 Ibis cinereus: Bluwok, Walangkadak
111 Ibis leucocephala: Bluwok berwarna
112 Lorius roratus: Bayan
113 Leptoptilos javanicus:  Marabu, Bangau tongtong
114 Leucopsar rothschildi: Jalak Bali
115 Limnodromus semipalmatus: Blekek Asia
116 Lophozosterops javanica: Burung kacamata leher abu-abu
117 Lophura bulweri: Beleang ekor putih
118 Loriculus catamene: Serindit Sangihe
119 Loriculus exilis: Serindit Sulawesi
120 Lorius domicellus: Nori merah kepala hitam
121 Macrocephalon maleo: Burung maleo
122 Megalaima armillaris: Julang, Enggang, Rangkong, Kangkareng (semua jenis dari famili Bucerotidae)
123 Megalaima corvina: Haruku, Ketuk-ketuk
124 Megalaima javensis: Tulung tumpuk, Bultok Jawa
125 Megapoddidae: Maleo, Burung gosong (semua jenis dari famili Megapododae)
126 Megapodius reintwardtii: Burung gosong
127 Meliphagidae: Burung sesap, Pengisap madu (semua jenis dari famili Meliphagidae)
128 Musciscapa ruecki: Burung kipas biru
129 Mycteria cinerea: Bangau putih susu, Bluwok
130 Nectariniidae: Burung madu, Jantingan, Klaces (semua jenis dari famili Nectariniidae)
131 Numenius spp.: Gagajahan (semua jenis dari genus Numenius)
132 Nycticorax caledonicus: Kowak merah
133 Otus migicus beccarii: Burung hantu Biak
134 Pandionidae: Burung alap-alap, Elang (semua jenis dari famili Pandionidae)
135 Paradiseidae: Burung cendrawasih (semua jenis dari famili Paradiseidae)
136 Pavo muticus: Burung merak
137 Pelecanidae: Gangsa laut (semua jenis dari famili Pelecanidae)
138 Pittidae: Burung paok, Burung cacing (semua jenis dari famili Pittidae)
139 Plegadis falcinellus: Ibis hitam, Roko-roko
140 Polyplectron malacense: Merak kerdil
141 Probosciger aterrimus: Kakatua raja, Kakatua hitam
142 Psaltria exilis: Glatik kecil, Glatik gunung
143 Pseudibis davisoni: Ibis hitam punggung putih
144 Psittrichas fulgidus: Kasturi raja, Betet besar
145 Ptilonorhynchidae: Burung namdur, Burung dewata
146 Rhipidura euryura: Burung kipas perut putih, Kipas gunung
147 Rhipidura javanica: Burung kipas
148 Rhipidura phoenicura: Burung kipas ekor merah
149 Satchyris grammiceps: Burung tepus dada putih
150 Satchyris melanothorax: Burung tepus pipi perak
151 Sterna zimmermanni: Dara laut berjambul
152 Sternidae: Burung dara laut (semua jenis dari famili Sternidae)
153 Sturnus melanopterus: Jalak putih, Kaleng putih
154 Sula abbotti: Gangsa batu aboti
155 Sula dactylatra: Gangsa batu muka biru
156 Sula leucogaster: Gangsa batu
157 Sula sula: Gangsa batu kaki merah
158 Tanygnathus sumatranus: Nuri Sulawesi
159 Threskiornis aethiopicus: Ibis putih, Platuk besi
160 Trichoglossus ornatus: Kasturi Sulawesi
161 Tringa guttifer: Trinil tutul
162 Trogonidae: Kasumba, Suruku, Burung luntur
163 Vanellus macropterus: Trulek ekor putih

III. REPTILIA (Melata)
164 Batagur baska: Tuntong
165 Caretta caretta: Penyu tempayan
166 Carettochelys insculpta: Kura-kura Irian
167 Chelodina novaeguineae: Kura Irian leher panjang
168 Chelonia mydas: Penyu hijau
169 Chitra indica: Labi-labi besar
170 Chlamydosaurus kingii: Soa payung
171 Chondropython viridis: Sanca hijau
172 Crocodylus novaeguineae: Buaya air tawar Irian
173 Crocodylus porosus: Buaya muara
174 Crocodylus siamensis: Buaya siam
175 Dermochelys coriacea: Penyu belimbing
176 Elseya novaeguineae: Kura Irian leher pendek
177 Eretmochelys imbricata: Penyu sisik
178 Gonychephalus dilophus: Bunglon sisir
179 Hydrasaurus amboinensis: Soa-soa, Biawak Ambon, Biawak pohon
180 Lepidochelys olivacea: Penyu ridel
181 Natator depressa: Penyu pipih
182 Orlitia borneensis: Kura-kura gading
183 Python molurus: Sanca bodo
184 Phyton timorensis: Sanca Timor
185 Tiliqua gigas: Kadal Panan
186 Tomistoma schlegelii: Senyulong, Buaya sapit
187 Varanus borneensis: Biawak Kalimantan
188 Varanus gouldi: Biawak coklat
189 Varanus indicus: Biawak Maluku
190 Varanus komodoensis: Biawak komodo, Ora
191 Varanus nebulosus: Biawak abu-abu
192 Varanus prasinus: Biawak hijau
193 Varanus timorensis: Biawak Timor
194 Varanus togianus: Biawak Togian

IV. INSECTA (Serangga)
195 Cethosia myrina: Kupu bidadari
196 Ornithoptera chimaera: Kupu sayap burung peri
197 Ornithoptera goliath: Kupu sayap burung goliat
198 Ornithoptera paradisea: Kupu sayap burung surga
199 Ornithoptera priamus: Kupu sayap priamus
200 Ornithoptera rotschldi: Kupu burung rotsil
201 Ornithoptera tithonus: Kupu burung titon
202 Trogonotera brookiana: Kupu trogon
203 Troides amphrysus: Kupu raja
204 Troides andromanche: Kupu raja
205 Troides criton: Kupu raja
206 Troides haliphron: Kupu raja
207 Troides helena: Kupu raja
208 Troides hypolitus: Kupu raja
209 Troides meoris: Kupu raja
210 Troides miranda: Kupu raja
211 Troides plato: Kupu raja
212 Troides rhadamantus: Kupu raja
213 Troides riedeli: Kupu raja
214 Troides vandepolli: Kupu raja

V. PISCES (Ikan)
215 Homaloptera gymnogaster: Selusur Maninjau
216 Latimeria chalumnae: Ikan raja laut
217 Notopterus spp.: Belida Jawa, Lopis Jawa (semua jenis dari genus Notopterus)
218 Pritis spp.: Pari Sentani, Hiu Sentani (semua jenis dari genus Pritis)
219 Puntius microps: Wader goa
220 Scleropages formasus: Peyang malaya, Tangkelasa
221 Scleropages jardini: Arowana Irian, Peyang Irian, Kaloso

VI. ANTHOZOA
222 Anthiphates spp.: Akar bahar, Koral hitam (semua jenis dari genus Anthiphates)

VII. BIVALVIA
223 Birgus latro: Ketam kelapa
224 Cassis cornuta: Kepala kambing
225 Charonia tritonis: Triton terompet
226 Hippopus hippopus: Kima tapak kuda, Kima kuku beruang
227 Hippopus porcellanus: Kima Cina
228 Nautilus popillius Nautilus berongga
229 Tachipleus gigas: Ketam tapak kuda
230 Tridacna crocea: Kima kunia, Lubang
231 Tridacna derasa: Kima selatan
232 Tridacna gigas: Kima raksasa
233 Tridacna maxima: Kima kecil
234 Tridacna squamosa Kima sisik, Kima seruling
235 Trochus niloticus: Troka, Susur bundar
236 Turbo marmoratus: Batu laga, Siput hijau

TUMBUHAN

I. PALMAE
237 Amorphophallus decussilvae: Bunga bangkai jangkung
238 Amorphophallus titanum: Bunga bangkai raksasa
239 Borrassodendron borneensis: Bindang, Budang
240 Caryota no: Palem raja/Indonesia
241 Ceratolobus glaucescens: Palem Jawa
242 Cystostachys lakka: Pinang merah Kalimantan
243 Cystostachys ronda: Pinang merah Bangka
244 Eugeissona utilis: Bertan
245 Johanneste ijsmaria altifrons: Daun payung
246 Livistona spp.: Palem kipas Sumatera (semua jenis dari genus Livistona)
247 Nenga gajah: Palem Sumatera
248 Phoenix paludosa: Korma rawa
249 Pigafatta filaris: Manga
250 Pinanga javana: Pinang Jawa

II. RAFFLESSIACEA
251 Rafflesia spp.: Rafflesia, Bunga padma (semua jenis dari genus Rafflesia)

III. ORCHIDACEAE
252 Ascocentrum miniatum: Anggrek kebutan
253 Coelogyne pandurata: Anggrek hitan
254 Corybas fornicatus: Anggrek koribas
255 Cymbidium hartinahianum: Anggrek hartinah
256 Dendrobium catinecloesum: Anggrek karawai
257 Dendrobium d'albertisii: Anggrek albert
258 Dendrobium lasianthera: Anggrek stuberi
259 Dendrobium macrophyllum: Anggrek jamrud
260 Dendrobium ostrinoglossum: Anggrek karawai
261 Dendrobium phalaenopsis: Anggrek larat
262 Grammatophyllum papuanum: Anggrek raksasa Irian
263 Grammatophyllum speciosum: Anggrek tebu
264 Macodes petola: Anggrek ki aksara
265 Paphiopedilum chamberlainianum: Anggrek kasut kumis
266 Paphiopedilum glaucophyllum: Anggrek kasut berbulu
267 Paphiopedilum praestans: Anggrek kasut pita
268 Paraphalaenopsis denevei: Anggrek bulan bintang
269 Paraphalaenopsis laycockii: Anggrek bulan Kaliman Tengah
270 Paraphalaenopsis serpentilingua: Anggrek bulan Kaliman Barat
271 Phalaenopsis amboinensis: Anggrek bulan Ambon
272 Phalaenopsis gigantea: Anggrek bulan raksasa
273 Phalaenopsis sumatrana: Anggrek bulan Sumatera
274 Phalaenopsis violacose: Anggrek kelip
275 Renanthera matutina: Anggrek jingga
276 Spathoglottis zurea: Anggrek sendok
277 Vanda celebica: Vanda mungil Minahasa
278 Vanda hookeriana: Vanda pensil
279 Vanda pumila: Vanda mini
280 Vanda sumatrana: Vanda Sumatera

IV. NEPHENTACEAE
281 Nephentes spp.: Kantong semar (semua jenis dari genus Nephentes)

V. DIPTEROCARPACEAE
282 Shorea stenopten: Tengkawang
283 Shorea stenoptera: Tengkawang
284 Shorea gysberstiana
285 Shorea pinanga
286 Shorea compressa
287 Shorea semiris
288 Shorea martiana
289 Shorea mexistopteryx
290 Shorea beccariana
291 Shorea micrantha
292 Shorea palembanica
293 Shorea lepidota
294 Shorea singkawang

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE

Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT KABINET RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan I
ttd

Lambock V. Nahattands


Sunday, July 1, 2012

Arti Mantra Harry Potter

Accio (baca : akio) : mantra untuk memanggil sesuatu agar mendekat pada pengucap mantra. Berasal dari bahasa Latin accio yang artinya ‘aku memanggil’

Aguamenti (baca : akuamenti) : mantra untuk menyemburkan air dari tongkat sihir. Berasal dari gabungan kata bahasa Latin aqua (air) dan bahasa Inggris augment (menambah).

Alohomora (baca : alohamora) : mantra untuk membuka atau menutup pintu. Menurut JK Rowling, pengarang HP, alohamora berasal dari dialek Sidiki di Afrika Barat, yang artinya ‘ramah pada para pencuri’.

Anapneo (baca : anapnio) : mantra untuk membuka jalan nafas seseorang yang tersedak. Dari bahasa Yunani anapneo yang artinya ‘bernafas kembali.

Aparecium (baca : aperisiam ) : mantra untuk memunculkan tinta kasat mata pada sebuah buku. Berasal dari bahasa latin appareo yang artinya ‘jadi kelihatan atau muncul’

Avada Kedavra (baca : avada kedavra), mantra yang menyebabkan kematian bagi penerima mantra ini.. Berasal dari mantra kuno Aramaic abracadabra yang artinya ‘biarkan hancur’, atau dari bahasa Latin cadaver yang artinya ‘mayat’

Avis (baca : avis), mantra yang digunakan untuk menghasilkan sekawanan burung dari tongkat sihir pengucapnya. Berasal dari bahasa Latin avis yang artinya burung.

Cave Inimicum (baca : kavei inimikem), mantra untuk memperkuat perlindungan dari musuh. Berasal dari bahasa Latin caveo inimicus yang artinya ‘awas ada musuh’.

Colloportus (baca : koloportes), mantra untuk mengunci pintu agar tidak dibuka para muggle. Berasal dari bahasa Yunani kollao yang artinya ‘merapatkan; dan bahasa Latin porta yang artinya ‘gerbang’.

Confringo (baca : konfringo), mantra yang menyebabkan ledakan api. Berasal dari bahasa Latin confringo yang artinya ‘hancur berkeping-keping’.

Defodio (baca : difodio), mantra untuk memahat atau menggali batu atau baja. Berasal dari bahasa Latin defodio yang artinya ‘menggali’.

Deletrius (baca : dilitries), mantra untuk membuang sisa mantra sebelumnya. Berasal dari kata Latin delere yang artinya merusak, atau bahasa Inggris delete yang artinya menghapus.

Densaugeo (baca : densojio), mantra untuk membuat gigi orang tumbuh cepat sekali. Berasal dari kata Latin dens (gigi) dan augeo (membesar).

Deprimo (baca : deprimo), mantra untuk mendatangkan angin kuat untuk melembekkan benda-benda. Berasal dari kata Latin deprimo, yang artinya ‘menggali dalam’

Descendo(baca : desendo), mantra untuk menenggelamkan atau menurunkan sesuatu. Berasal dari kata Latin descenso yang artinya ‘turun’.

Diffindo (baca : difindo), mantra ini digunakan untuk menyobek atau memisahkan kain. Berasal dari kata Latin diffindo, yang artinya “aku pisahkan’.

Duro (baca : duro), mantra yang diucapkan Hermione dalam Deathly Hallows ketika merlarikan diri dari Death Eaters di Hogwarts. Dari bahasa Latin duro yang artinya ‘aku jadikan keras’

Engorgio (baca: enggorjio), mantra untuk membuat benda jadi besar. Dari bahasa Inggris engorge yang artinya ‘mengisi penuh’

Episkey (baca: episki), mantra untuk mengobati luka ringan. Dari bahasa Yunani episkeu, yang artinya ‘memperbaiki, memulihkan’

Erecto (baca: erekto), mantra untuk menegakkan sesuatu. Dari bahasa latin erectus, yang artinya ‘berdiri tegak’.

Evanesco (baca : evanesko), mantra untuk menghilangkan sasaran. Berasal dari kata Latin evanesce (lenyap)

Expecto Patronum (baca : ekspektopatronum), mantra yang digunakan untuk melindungi diri dari para dementors. Dari bahasa Latin yang artinya ‘aku minta perlindungan’.

Expelliarmus (baca: eskspeliarmes), mantra untuk melepaskan tongkat sihir dari tangan musuh. Berasal dari bahasa Latin expellere myang artinya, ‘terlempar’ dan arma yang artinya ‘senjata’

Expulso (baca: ekspulso), mantra yang menyebabkan sesuatu meledak. Dari bahasa Latin expulso, yang artinya’meledak’.

Ferula (baca: ferula), mantra untuk membuat perban. Dari bahasa Latin ferula (tongkat).

Finite Incantatem (baca : finite inkantatem), mantra untuk melawan efek mantra lain. Berasal dari kata Latin finio dan canti, yang artinya ‘hentikan efeknya’.

Flagrate (baca : flagreiti), mantra yang memberi kekuatan pada tongkat sihir untuk membuat cahaya. Dari bahasa Latin flagro (bercahaya)

Geminio (baca : jeminio), mantra yang menggandakan benda yang dimantrai. Dari bahasa Latin geminio, yang artinya ‘menggandakan’.

Glisseo (baca: glisiou), mantra untuk meratakan anak tangga. Berasal dari bahasa Prancis glisser, yang artinya ‘bergeser’.

Homenum Revelio (baca: hominem revelio), mantra untuk menemukan orang yang tak tampak. Berasal dari Latin homo (orang) dan revelo (menampakkan).

Impedimenta : mantra untuk membekukan, melempar atau menghentikan pergerakan benda, namun tidak permanen (untuk beberapa menit). Berasal dari bahasa latin impedimentum yang artinya ‘menghambat’.

Imperio (baca : impiirio) : mantra untuk membuat korbannya menuruti segala yang diperintahkan oleh si pengirim mantra. Berasal dari bahasa Latin Imperare yang berarti ‘aku memerintahkan’.

Impervius (baca : impervies) : mantra yang digunakan untuk mengusir atau tahan terhadap zat dan kekuatan-kekuatan dari luar, termasuk air. Berasal dari bahasa Latin impervius yang artinya ‘tak tertembus’.

Incarcerous (baca : ingkarkeres) : mantra untuk mengikat sesuatu atau seseorang dengan tali. Berasal dari bahasa Inggris incarcerate yang berarti ‘memenjarakan’ atau ‘mengurung’.

Incendio (baca : insendiio) : mantra untuk menciptakan api. Berasal dari bahasa Latin incendo yang berarti ‘membakar’.

Langlock (baca : lenglok) : mantra untuk melekatkan lidah seseorang di langit-langit mulutnya. Mantra ini diciptakan oleh Severus Snape. Berasal dari bahasa Latin lingua yang artinya ‘lidah’ atau ‘bahasa’ dan bahasa Inggris lock yang artinya ‘mengunci’.

Legilimens (baca : lejilimenz) : mantra yang membuat pengucapnya bisa menyusup ke dalam benak si penerima mantra, termasuk melihat memori, pikiran dan emosinya. Berasal dari bahasa Latin legere yang artinya ‘membaca’ dan mens yang artinya ‘benak’.

Levicorpus (baca : levikorpes) : mantra untuk menggantung terbalik korban di salah satu pergelangan kakinya. Diciptakan oleh Severus Snape. Berasal dari bahasa Latin levo yang berarti ‘menaikkan’ dan corpus yang berarti ‘tubuh’.

Locomotor (baca : lookomootor) : mantra untuk mengangkat suatu benda dan menggerakkannya sesuai dengan keinginan pelafal mantra. Biasanya pengucapan mantra ini diikuti oleh nama benda yang ingin digerakkan. Berasal dari bahasa Latin locus yang berarti ‘tempat’ dan motor yang berarti ’pemindah’.

Lumos (baca : liewmos) : mantra untuk menciptakan penerangan jarak dekat dari ujung tongkat sihir. Berasal dari bahasa Latin lumen yang artinya ‘cahaya’. Mantra untuk mematikan cahaya tersebut adalah Nox.

Meteolojinx Recanto (baca : metiiolojingks rekantoo) : mantra untuk mengentikan kondisi cuaca . Berasal dari bahasa Yunani meteôrologia yang berarti ‘meteorologi’, bahasa Inggris jinx yang berarti ‘memberi nasib sial’, dan bahasa Latin recanto yang berarti ‘menarik’.

Mobilicorpus (baca : mobiliikorpes) : mantra untuk memindahkan seseorang ke tempat sesuai yang ditunjuk oleh pelafal mantra dengan tongkat sihirnya. Berasal dari bahasa Latin mobilito yang berarti ‘menggerakkan’.

Morsmordre (baca : morzmoordre) : mantra untuk memunculkan Tanda Kegelapan, yaitu tanda khas Lord Voldemort. Berasal dari bahasa Latin mors yang berarti ‘kematian’ dan bahasa Perancis mordre yang berarti ’menggigit’.

Muffliato (baca : mafliiato) : untuk membuat orang yang ditunjuk dengan tongkat sihir tidak bisa mendengar percakapan yang ada di sekitanya. Berasal dari bahasa Inggris muffle yang artinya ‘untuk membuat daya pendengaran tidak tajam dengan menutupi asalnya’.

Obliviate (baca : obliviieyt) : mantra untuk menghilangkan ingatan akan kejadian-kejadian tertentu. Berasal dari bahasa Latin oblivium yang berarti ’kelupaan’.

Oppugno (baca : eppugno) : mantra untuk membuat benda-benda yang telah tersihir sebelumnya untuk melakukan penyerangan. Berasal dari bahsa Latin klasik oppugno yang berarti ‘menyerang’.

Petrificus Totalus (baca : petrifikes totales) : mantra untuk membuat korban beku seketika, tetapi tidak menghambat pernafasan, penglihatan maupun pendengaran. Berasal dari bahasa Inggris petrify (berubah menjadi batu) dan total (secara menyeluruh).

Portus (baca : portes) : mantra untuk mengubah suatu benda menjadi Portkey. Berasal dari bahasa Latin portus (pintu gerbang).

Prior Incantato (baca : praiyer ingkantatoo) : mantra untuk membuat mantra terakhir yang dilakukan oleh sebuah tongkat sihir muncul dari tongkat tersebut. Berasal dari bahasa Inggris prior (sebelumnya) dan bahasa Latin incanto (menyihir).

Protego (baca : proteigo) : mantra untuk melindungi diri dari segala serangan, kecuali serangan Avada Kedavra. Berasal dari bahasa Latin protego (melindugi).

Quietus (baca : kwaites), mantra untuk mengembalikan suara yang keras jadi normal. Berasal dari bahasa Latin quietus (kalem, tak terganggu)

Reducio(baca : redusio), mantra untuk mengecilkan benda yang sudah diperbesar. Berasal dari bahasa Latin reducio (mengembalikan ke asalnya)

Reducto (baca : redukto), mantra untun meledakkan benda padat. Berasal dari bahas latin reductio (restorasi).

Relashio(baca : relasyio), mantra untuk memaksa orang atau benda untuk melepaskan benda yang dipegangnya. Berasal dari bahasa Italia rilasciare (melepaskan)

Rennervate (baca : renerveit), mantra untuk menyadarkan orang pingsan. Dari ‘re-en-nerves’ (mengembalikan kesadaran)

Reparo(baca: reparo), mantra untuk memperbaiki sesuatu yang rusak. Dari bahasa Latin reparo (memperbaiki).

Repello Muggletum (Baca : repelo mageltem), mantra agar para Muggle tak pernah mengenali dunia sihir. Dari bahasa Latin repello (menyingkirkan)

Rictusempra (baca : riktsempra), mantra untuk menggelitik sasaran. Berasal dari bahasa Latin rictus (mulut terbuka) dan semper (selalu)

Riddikulus (baca : ridikulus), mantra yang digunakan untuk memerangi makhluk jadi-jadian. Dari bahasa Latin ridiculus (aneh).

Salvio Hexia (baca : salvio heksia), mantra untuk melindungi diri dari kutukan. Berasal dari bahasa Latin salvus (aman), dan Inggris hex (kutukan).

Scourgify (baca : skerjifai), mantra untuk membersihkan sesuatu. Berasal dari bahasa Inggris scour (menggosok sampai bersih).

Sectumsempra (baca : sektemsempra), mantra untuk melukai sasaran seperti dibelah pedang. Berasal dari Latin secrum (memotong) dan semper (selalu)

Serpensortia (baca : serpensortia), mantra yang bisa mengeluarkan ular dari tongkat sihir. Berasal dari bahasa Latin serpens (ular), dan Prancis sortir (keluar)

Silencio (baca : silensio), mantra untuk membisukan orang. Berasal dari bahasa Italia silenzio yang artinya ‘diam’.

Sonorus (baca: sonorous), mantra untuk mengeraskan suata pemantranya. Berasal dari kata Latin sonorous (keras).

Specialis Revelio (baca : specialis revelio), mantra untuk mengungkap rahasia gaib suatu objek. Dari bahasa Latin specialis (khusus) dan ‘revelo’ (menyingkap).

Stupefy (baca : scupifai), mantra untuk membuat orang pingsan. Berasal dari bahasa Latin stupefacio yang artinya ‘menjadikan bodoh’.

Tarantallegra (baca: tarantalegra), mantra yang membuat korbannya berjoget heboh. Dari bahasa Italia taranta (menari) dan allegra (gembira).

Tergeo (baca : terjio), mantra untuk menghilangkan sesuatu dari permukaan benda (misalnya darah dari kain). Berasal dari Latin klasik tergeo (membersihkan).

Waddiwasi (baca : wadiwasi), mantra untuk melontarkan benda kecil ke udara. Berasal dari bahasa Inggris wad yang artinya ‘secuil benda empuk’. Digunakan dalam Prisoner of Azkaban.

Wingardium Leviosa (baca : wingardiem leviousa), mantra untuk mengangkat benda. Berasal dari bahasa Inggris wing (sayap), Latin arduus (tinggi) dan levis (ringan).

Rictusempra!

Saturday, June 16, 2012

Trimeresurus sumatranus

Trimeresurus sumatranus adalah salah satu spesies ular yang sekarang tergolong langka. Karena banyak ditemukan di wilayah Sumatera, spesies ular ini pun dinamai Trimeresurus sumatranus. Ular tersebut memiliki corak unik, berwarna dasar abu-abu, dengan corak hijau kekuningan, dan memiliki ekor kemerahan. Panjangnya mencapai 1,5 hingga 2 meter. Mereka biasa aktif di malam hari.

Ular jenis Trimeresurus sumatranus biasanya memakan katak, tikus hutan, dan beberapa jenis burung. Biasanya pula, ular tersebut didapati berada di cabang pohon berukuran kecil dan masih dekat dengan tanah. Habitatnya ada di Sumatera, Mentawai, Nias, Borneo, hingga ke Semenanjung Malaysia hingga Thailand.

Pada saat ini, ular tersebut menghadapi ancaman kepunahan, karena banyak diburu—untuk diambil kulitnya atau racunnya. Selain itu, perusakan hutan juga menyebabkan rusaknya habitat mereka.

Friday, June 8, 2012

Wagler viper(Tropidolaemus wagleri)

Viper Wagleri merupakan salah satu ular berbisa yang hidup di dataran rendah dan semak belukar tepatnya persebarannya di Asia Tenggara. Ular ini memiliki warna dan bentuk yang eksotis, tak heran kalau para pecinta reptil menyukai ular yang satu ini.

Ular ini memiliki kepala yang besar berbentuk segitiga dengan warna yang bervariasi, corak warna di pulau Sumatra akan berbeda dengan corak warna yang ditemukan di Kalimantan. Ada yang mempunyai warna dasar hitam atau coklat dengan variasi oranye atau kuning, ada pula yang dengan warna dasar hijau dengan pita kuning atau oranye

Terdapat lubang-lubang diantara mata dan hidungnya, lubang ini dapat mendeteksi perbedaan suhu hingga 0,003°C.

Viper Wagleri mempuyai bisa yang digunakan untuk melumpuhkan mangsanya atau untuk pertahanan diri terhadap gangguan binatang lain termasuk manusia. Racun ular viper wagleri termasuk hemotoksin, yaitu racun yang langsung menyerang darah dan sistem sirkulasi. Berbeda dengan racun yang dihasilkan oleh ular kobra yaitu neurotoksin yang meyerang sistem syaraf.

Wagler ini ovovivipar hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur dan beranak, embrionya berkembang di dalam telur, dan telur tetap berada di dalam tubuh induknya sampai telur menetas, anak ular yang dihasilkan bisa mencapai 8 sampai 40 ekor anak. Berbeda dengan jenis ular lainnya seperti ular phyton yang telurnya menetas di luar tubuh induknya.

Ular yang jantan lebih kecil dibandingkan dengan yang betina, yang jantan memiliki panjang sekitar 75 cm sedangkan yang betina memiliki panjang sekitar 1 m.

Viper Wagleri ini biasa memakan burung, reptil seperti katak, dan mamalia rodensia. Ular muda makan setiap 14 hari sekali sedangkan ular dewasa makan setiap 30 sampai 40 hari sekali sekali.

Ular berkepala segitiga ini merupakan hewan arboreal, yaitu hewan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon, dan juga bersifat nocturnal yaitu hewan yang aktif dimalam hari dan tidur disiang hari. Maka dari itu akan sering dijumpai ular ini bermalas malasan di dahan pohon pada waktu siang hari.

Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Subphylum: Vertebrata
Class: Reptilia
Order: Squamata
Suborder: Serpentes
Family: Viperidae
Subfamily: Crotalinae
Genus: Tropidolaemus
Species: T. wagleri

Ular cin-cin mas (Boiga dendrophila)

Species : Boiga dendrophila Boie, 1827
N.I. : Mangrove Snake, Ular Cincin Emas, Ular Taliwongso
Ular cincin emas tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Penang, Singapore, Malaysia, Philipine, Siam, dan Nias. Biasanya hidup di pohon atau hutan bakau. Dia beraktifitas pada malam hari (nocturnal) untuk makan tikus telur dan burung-burung semak. Ular ini memiliki tipe gigi Ophistoglypha.

Ular ini mempunyai ciri-ciri tubuh bagian dorsal berwarna hitam dengan garis-garis kuning atau putih disisi lateral dengan jarak satu garis dengan yang lain agak teratur. Ada juga yang berwarna hitam putih. Tubuh bagian ventral berwarna hitam atau kebiru-biruan. Labial bawah berwarna kuning dengan garis-garis hitam kecil. Mata bulat dengan pupil mata elips vertikal. Panjang ular ini ± 2500 mm.

Taxonavigation
Phylum: Chordata
Subphylum: Vertebrata
Infraphylum: Gnathostomata
Superclassis: Tetrapoda
Classis: Reptilia
Subclassis: Diapsida
Infraclassis: Lepidosauromorpha
Superordo: Lepidosauria
Ordo: Squamata
Subordo: Serpentes
Infraordo: Caenophidia
Superfamilia: Colubroidea
Familia: Colubridae
Subfamilia: Colubrinae
Genus: Boiga
Species: Boiga dendrophila
Subspecies: B. d. annectens – B. d. dendrophila – B. d. divergens – B. d. gemmicincta – B. d. latifasciata – B. d. levitoni – B. d. melanota – B. d. multicincta – B. d. occidentalis

Sunday, May 27, 2012

Penanganan Gigitan Ular dan SABU

PENDAHULUAN
Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan sering dihubungkan dengan pangan atau bahan kimia. Pada kenyataannya bukan hanya pangan atau bahan kimia saja yang dapat menyebabkan keracunan. Di sekeliling kita ada racun alam yang terdapat pada beberapa tumbuhan dan hewan. Salah satunya adalah gigitan ular berbisa yang sering terjadi di daerah tropis dan subtropis. Mengingat masih sering terjadi keracunan akibat gigitan ular maka untuk dapat menambah pengetahuan masyarakat kami menyampaikan informasi mengenai bahaya dan pertolongan terhadap gigitan ular berbisa.
Ular merupakan jenis hewan melata yang banyak terdapat di Indonesia. Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. Ular berbisa memiliki sepasang taring pada bagian rahang atas. Pada taring tersebut terdapat saluran bisa untuk menginjeksikan bisa ke dalam tubuh mangsanya secara subkutan atau intramuskular.
Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus. Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata. Bisa ular tidak hanya terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi merupakan campuran kompleks, terutama protein, yang memiliki aktivitas enzimatik.
Efek toksik bisa ular pada saat menggigit mangsanya tergantung pada spesies, ukuran ular, jenis kelamin, usia, dan efisiensi mekanik gigitan (apakah hanya satu atau kedua taring menusuk kulit), serta banyaknya serangan yang terjadi. Ular berbisa kebanyakan termasuk dalam famili Colubridae, tetapi pada umumnya bisa yang dihasilkannya bersifat lemah. Contoh ular yang termasuk famili ini adalah ular sapi (Zaocys carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular jali (Ptyas korros), dan ular serasah (Sibynophis geminatus).
Ular berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae, Hydropiidae, atau Viperidae. Elapidae memiliki taring pendek dan tegak permanen. Beberapa contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora intestinalis), ular weling (Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana, Naja sputatrix), dan ular king kobra (Ophiophagus hannah).
Viperidae memiliki taring panjang yang secara normal dapat dilipat ke bagian rahang atas, tetapi dapat ditegakkan bila sedang menyerang mangsanya. Ada dua subfamili pada Viperidae, yaitu Viperinae dan Crotalidae. Crotalidae memiliki organ untuk mendeteksi mangsa berdarah panas (pit organ), yang terletak di antara lubang hidung dan mata. Beberapa contoh Viperidae adalah ular bandotan (Vipera russelli), ular tanah (Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris).

Bagaimanakah Gigitan Ular Dapat Terjadi?
Korban gigitan ular terutama adalah petani, pekerja perkebunan, nelayan, pawang ular, pemburu, dan penangkap ular. Kebanyakan gigitan ular terjadi ketika orang tidak mengenakan alas kaki atau hanya memakai sandal dan menginjak ular secara tidak sengaja. Gigitan ular juga dapat terjadi pada penghuni rumah, ketika ular memasuki rumah untuk mencari mangsa berupa ular lain, cicak, katak, atau tikus.

Bagaimana Mengenali Ular Berbisa?
Tidak ada cara sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa. Beberapa spesies ular tidak berbisa dapat tampak menyerupai ular berbisa. Namun, beberapa ular berbisa dapat dikenali melalui ukuran, bentuk, warna, kebiasaan dan suara yang dikeluarkan saat merasa terancam. Beberapa ciri ular berbisa adalah bentuk kepala segitiga kecuali Elapidae, ukuran gigi taring kecil, dan pada luka bekas gigitan terdapat bekas taring.
Ciri-ciri ular tidak berbisa:
1. Bentuk kepala segiempat panjang
2. Gigi taring kecil
3. Bekas gigitan: luka halus berbentuk lengkungan
Ciri-ciri ular berbisa:
1. Bentuk kepala segitiga kecuali Elapidae
2. Dua gigi taring besar di rahang atas
3. Bekas gigitan: dua luka gigitan utama akibat gigi taring

Gambar 1. Bekas gigitan ular. (A) Ular tidak berbisa tanpa bekas taring, (B) Ular berbisa dengan bekas taring

Bila ragu-ragu mengenai jenis ularnya, sebaiknya penderita diamati selama 48 jam karena kadang efek keracunan bisa timbul lambat.

GAMBARAN KLINIS PENDERITA GIGITAN ULAR BERBISA:
1. Tanda Umum: Penderita tampak kebiruan, pingsan, lumpuh, sesak nafas.
2. Efek Yang Ditimbulkan:
A. Efek Lokal: Nyeri hebat yang tidak sebanding dengan besar luka, bengkak, eritema, petekie, ekimosis, memar sampai tanda nekrosis jaringan.
B. Efek Sistemik: Rasa kesemutan, lemas, nyeri kepala, mual dan muntah, nyeri perut, diare sampai pasien mengalami syok hipovolemik sekunder yang diakibatkan oleh berpindahnya cairan vaskuler ke jaringan akibat efek sistemik bisa ular tersebut.
Gejala yang ditemukan seperti ini sebagai tanda bahaya bagi petugas kesehatan untuk member pertolongan segera.
C. Efek Sistemik Spesifik:
- Koagulopati: keluarnya darah terus menerus dari tempat gigitan, venipuncture dari gusi dan bila berkembang akan menimbulkan hematuria, hematemesis, melena dan batuk darah. Dapat terjadi perdarahan di peritoneum atau pericardium, oedem paru dan syok berat karena efek racun langsung pada otot jantung.
- Neurotoksik: ptosis, oftalmoplegia progresif, lumpuh layuh anggota tubuh, paralisis pada pernafasan dan paralisis seluruh tubuh (+ 12 jam paska gigitan).
- Miotoksisitas hanya ditemukan bila digigit ular laut.

Sifat Bisa, Gejala, dan Tanda Gigitan Ular
Berdasarkan sifatnya pada tubuh mangsa, bisa ular dapat dibedakan menjadi bisa hemotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi jantung dan sistem pembuluh darah; bisa neurotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi sistem saraf dan otak; dan bisa sitotoksik, yaitu bisa yang hanya bekerja pada lokasi gigitan.
Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa pada korbannya. Orang yang digigit ular, meskipun tidak ada bisa yang diinjeksikan ke tubuhnya dapat menjadi panik, nafas menjadi cepat, tangan dan kaki menjadi kaku, dan kepala menjadi pening. Gejala dan tanda-tanda gigitan ular akan bervariasi sesuai spesies ular yang menggigit dan banyaknya bisa yang diinjeksikan pada korban. Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain adalah tanda gigitan taring (fang marks), nyeri lokal, pendarahan lokal, memar, pembengkakan kelenjar getah bening, radang, melepuh, infeksi lokal, dan nekrosis jaringan (terutama akibat gigitan ular dari famili Viperidae).

Beberapa Jenis enzim yang dimiliki ular berbisa:
  • Cholinesterase : Neurotoksin dan dapat melumpuhkan mangsa
  • Amino Acid Oxidase : Berfungsi mencerna mangsa dan memicu peran enzim lainnya.
  • Hyaluronidase : Berfungsi untuk mempermudah penyerapan enzim lain kejaringan korban.
  • Proteinase: Berfungsi untuk mencerna, mengahancurkan jaringan tubuh korban.
  • Adenosin Triphospatase : Diduga neurotoksin yang bekerja sentral dan menyebabkan korban mengalami syok dan melumpuhkan mangsa.
  • Phospodiesterase : Bekerja dengan cara mengganggu fungsi jantung dan menurunkan tekanan darah dengan cepat.


GEJALA KLINIS :
Secara umum, akan timbul gejala lokal dan gejala sistemik pada semua gigitan ular.
Gejala lokal: edema, nyeri tekan pada luka gigitan, ekimosis (kulit kegelapan karena darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit).
Gejala sistemik: hipotensi, otot melemah, berkeringat, menggigil, mual, hipersalivasi (ludah bertambah banyak), muntah, nyeri kepala, pandangan kabur.

Gigitan Elapidae
(ular kobra, ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang, ular cabai, mamba)
1. Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut, kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.
2. Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit yang rusak.
3. Setelah digigit ular
a. 15 menit: muncul gejala sistemik.
b. 10 jam: paralisis urat-urat di wajah, bibir, lidah, tenggorokan, sehingga sukar bicara, susah menelan, otot lemas, kelopak mata menurun, sakit kepala, kulit dingin, muntah, pandangan kabur, mati rasa di sekitar mulut.
Kematian dapat terjadi dalam 24 jam.

Gigitan Viperidae/Crotalidae
(ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo):
1. Gejala lokal timbul dalam 15 menit, atau setelah beberapa jam berupa bengkak di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota badan.
2. Gejala sistemik muncul setelah 5 menit atau setelah beberapa jam.
3. Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut dalam waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat.

Gigitan Hydropiidae
(ular laut):
1. Segera timbul sakit kepala, lidah terasa tebal, berkeringat, dan muntah.
2. Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan nyeri menyeluruh, dilatasi pupil, spasme otot rahang, paralisis otot, mioglobulinuria yang ditandai dengan urin warna coklat gelap (ini penting untuk diagnosis), ginjal rusak, henti jantung.

Gigitan Rattlesnake dan Crotalidae
(ular derik, ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo)
1. Gejala lokal: ditemukan tanda gigitan taring, pembengkakan, ekimosis, nyeri di daerah gigitan, semua ini indikasi perlunya pemberian polivalen crotalidae antivenin.
2. Anemia, hipotensi, trombositopeni.
Rasa nyeri pada gigitan ular mungkin ditimbulkan dari amin biogenik, seperti histamin dan 5-hidroksitriptamin, yang ditemukan pada Viperidae.
Sindrom kompartemen merupakan salah satu gejala khusus gigitan ular berbisa, yaitu terjadi edem (pembengkakan) pada tungkai ditandai dengan 5P: pain (nyeri), pallor (muka pucat), paresthesia (mati rasa), paralysis (kelumpuhan otot), pulselesness (denyutan).

Penatalaksanaan Keracunan Akibat Gigitan Ular
Langkah-langkah yang harus diikuti pada penatalaksanaan gigitan ular adalah:
1. Pertolongan pertama, harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitan ular.
sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Hal ini dapat dilakukan oleh korban sendiri atau orang lain yang ada di tempat kejadian. Tujuan pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa, mempertahankan hidup korban dan menghindari komplikasi sebelum mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini yang membahayakan. Kemudian segera bawa korban ke tempat perawatan medis.
Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban yang cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak terjadi kontraksi otot, karena pergerakan atau kontraksi otot dapat meningkatkan penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening; pertimbangkan pressure-immobilisation pada gigitan Elapidae; hindari gangguan terhadap luka gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan bisa dan menimbulkan pendarahan lokal.
2. Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara yang aman dan senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau kontraksi otot untuk mencegah peningkatan penyerapan bisa.
3. Pengobatan gigitan ular Pada umumnya terjadi salah pengertian mengenai pengelolaan gigitan ular. Metode penggunaan torniket (diikat dengan keras sehingga menghambat peredaran darah), pemberian antihistamin dan kortikosteroid harus dihindari karena tidak terbukti manfaatnya.
4. Terapi yang dianjurkan meliputi:
a. Bersihkan bagian yang terluka dengan larutan Kalium Permanganat, cairan faal atau air steril.

Gambar 2. Imobilisasi bagian tubuh menggunakan perban.
b. Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban katun elastis dengan lebar + 10 cm, panjang 45 m, yang dibalutkan kuat di sekeliling bagian tubuh yang tergigit, mulai dari ujung jari kaki sampai bagian yang terdekat dengan gigitan. Bungkus rapat dengan perban seperti membungkus kaki yang terkilir, tetapi ikatan jangan terlalu kencang agar aliran darah tidak terganggu. Penggunaan torniket tidak dianjurkan karena dapat mengganggu aliran darah dan pelepasan torniket dapat menyebabkan efek sistemik yang lebih berat.
c. Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi penatalaksanaan jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan; penatalaksanaan sirkulasi; penatalaksanaan resusitasi perlu dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan shock, shock perdarahan, kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang tiba-tiba memburuk akibat terlepasnya penekanan perban, hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka, serta kerusakan ginjal dan komplikasi nekrosis lokal.
d. Pemberian suntikan antitetanus, atau bila korban pernah mendapatkan toksoid maka diberikan satu dosis toksoid tetanus.
e. Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara intramuskular.
f. Pemberian sedasi atau analgesik untuk menghilangkan rasa takut cepat mati/panik.
g. Pemberian serum antibisa. Karena bisa ular sebagian besar terdiri atas protein, maka sifatnya adalah antigenik sehingga dapat dibuat dari serum kuda. Di Indonesia, antibisa bersifat polivalen, yang mengandung antibodi terhadap beberapa bisa ular. Serum antibisa ini hanya diindikasikan bila terdapat kerusakan jaringan lokal yang luas.


Cara pemberian SABU :
Penatalaksanaan Sebelum dibawa ke rumah sakit:
1. Diistirahatkan dalam posisi horizontal terhadap luka gigitan
2. Bila belum tersedia antibisa, ikatlah 2 ujung yang terkena gigitan. Tindakan ini kurang berguna jika dilakukan lebih dari 30 menit paskagigitan.
Setelah dibawa ke rumah sakit:
Beri SABU (Serum Anti Bisa Ular) polivalen 1 ml berisi:
1. 10-50 LD50 bisa Calloselasma
2. 25-50 LD50 bisa Bungarus
3. 25-50 LD50 bisa Naja
4. Fenol 0,25% v/v.
Teknik Pemberian:
2 vial @ 5 ml intravena dalam 500 ml NaCl 0,9 % atau Dextrose 5% dengan kecepatan 40-80 tetes per menit. Maksimal 100 ml (20 vial).

Daftar Pustaka:
Guidelines for the Clinical Management of Snakes bites in the South-East Asia Region, World Health Organization, 2005.
Pedoman Pertolongan Keracunan untuk Puskesmas, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2002.
Snake Venom: The Pain and Potential of Poison, The Cold Blooded News Vol. 28, Number 3, March, 2001.

Wednesday, May 9, 2012

Gunung Lawu

Gunung Lawu 
Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau JawaIndonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api “istirahat” dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara).
Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.
Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.

Pendakian
Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Sura banyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.
Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.
Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.
Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.
Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata.
Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4.

Misteri gunung Lawu
Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Keraton Yogyakarta.
Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.
Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4.
Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam. Untuk mendaki melalui Cemorosewu (bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya gag nguatin untuk pemula. Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu.
 
Legenda gunung Lawu
Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Raden Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.
Raden Fatah setelah dewasa agama islam berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).
Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.
Saat itu Sang Prabu bertitah, “Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.
Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib sebagai burung Jalak Gading yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.



Twitter Bird Gadget